Kubuka jendela dan menghirup udara segar di pagi hari yang belum tercemar polusi. Aku memandang ke langit. Burung-burung bertengger di atas pohon sambil berkicau.
Rumput-rumput bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi. Bunga-bunga bermekaran terlihat sangat indah. Entah sampai kapan aku dapat melihat pemandangan indah di pagi hari, menghirup udara segar di pagi hari serta melihat matahari terbit dan tenggelam. Aku tidak tahu sampai kapan aku dapat merasakan dan melihat semua ciptaan Tuhan, tapi yang pasti, waktuku untuk merasakan dan melihat semua ciptaan Tuhan tidak akan lama lagi.
“La, bagaimana dengan cowok yang kau suka itu? Kamu nggak berkeinginan untuk
‘menembaknya’?” tanya Fenny, sahabat baikku.
“Fen, aku sudah puas dengan memandangnya saja. Bila dia bersamaku, mungkin dia akan menderita.”
“Menderita? Maksudmu? Lagian hanya dengan memandangnya saja, apa yang bisa kamu perbuat?”
“Sudahlah Fen, pagi-pagi jangan membahas tentang itu, sekarang pinjamin PR-mu, dong. Kerjakannya di kantin saja,” kataku.
“Huh.. tiap kali asal ngomongin tentang cowok yang kau suka itu, kamu selalu menghindar,” kata Fenny.
Apa yang bisa kuperbuat? Bila aku jalan bersamanya, itu hanya akan membuat dia menderita. Aku tidak mau melihat cowok yang kusuka itu sedih dan menderita.
“Hai, boleh aku duduk disini?” tanya seorang cowok yang baru saja aku bicarakan dengan Fenny tadi.
“Boleh. Lagian di situ emang nggak ada yang duduk kok,” kataku.
Fenny tersenyum ke arahku.
“La, senang ngak? Tiba-tiba saja dia ada di depanmu,” kata Fenny sambil berbisik.
“Biasa saja lagi. Sudah, jangan bisik-bisik lagi. Nanti dia curiga.”
“ Perkenalkan, nama saya, Vincent. Jurusan Teknik semester 1,”katanya.
“Nama saya, Paula. Jurusan Kesenian semester 1. Di samping saya, Fenny, Jurusan Kesenian semester 1 juga,” kataku.
“Hai,” kata Fenny.
“Saya sering mendengar tentang kalian dari teman sekelas saya. Namanya, Willy dan Steven. Saya rasa, kalian mengenal mereka kan?”
“Ya, saya tahu mereka, tapi saya tidak kenal dekat dengan mereka,” kataku.
“Ya, begitu juga dengan saya,” kata Fenny.
Willy adalah orang yang dulu pernah mengutarakan perasaannya padaku, sedangkan Steven mengutarakan perasaanya pada Fenny. Tapi kami berdua menolaknya.
“Oh…begitu yah? Eh, sudah waktunya aku kembali ke kelas. Sampai jumpa,” kata Vincent.
“La, senang? Mungkin dengan adanya pertemuan kalian hari ini, kalian bisa semakin akrab.”
“Fen, sudahlah. Kan sudah kubilang, aku sudah puas dengan memandangnya saja. Fen, hari ini aku tidak masuk yah, kepalaku pusing. Tolong bilang ke dosen.”
“Ma, hari ini, Paula tidak masuk kuliah lagi. Kepala Paula agak pusing,” kataku setelah pulang ke rumah.
“Kamu tidak apa apa kan? Mau pergi ke dokter?”
“Tidak usah, Ma. Sebentar lagi sembuh kok.”
“La, maafkan Mama, andaikan Mama bisa mendonorkan….”
“Ma, sudahlah. Jangan membahas tentang hal itu lagi. Lagipula Paula nggak mempermasalahkannya. Andaikan bisa, Paula juga tidak mau Mama mendonorkannya. Jadi, Mama tidak usah menyesalinya.”
“Tapi, Paula… Mama tidak mau kamu meninggal seperti Papamu.”
“Ma.. jangan berpikir yang tidak-tidak, dong. Paula tidur dulu yah.”
Bip…Bip…Bip… Hp-ku berbunyi.
“Halo…siapa nih?”
“Halo, ini Paula yah. Ini Vincent.”
“Vincent? Kok bisa tahu nomor HP-ku?”
“Tadi dikasih tahu Fenny. La, kamu nggak apa apa kan? Kamu sakit apa?”
“Nggak kok. Aku Cuma sakit kepala saja.”
“Betul?”
“Iya. Cuma sakit kepala ringan kok.”
“Oh…Kalau begitu, kamu tidur saja yah. Biasa kalau aku sakit kepala, hanya dengan tidur saja aku sudah sembuh.”
“Ok. Terima kasih yah, sudah memerhatikanku.”
“Nggak apa apa. Itulah gunanya teman.”
***
“La, sudah sembuh?”
“Sudah. Oh yah, kenapa semalam kamu kasih tahu nomor HP-ku ke Vincent?”
“Dia minta sih. Semalam aku ketemu dia waktu mau ke kelas. Dia tanya kok kamu tidak ada di sampingku. Terus aku bilang bahwa kamu pulang karena sakit. Terus dia minta nomor HP-mu. Kelihatan banget lho kalau dia khawatir. Jangan jangan dia juga suka sama kamu tuh.”
“Fen, pagi-pagi kok sudah ngawur? Sudahlah, jangan urus masalahku lagi. Kamu sendiri masih ngejomblo sampai sekarang.”
“Asal kamu tahu saja yah, cowok-cowok yang menungguku mengantri dari Sabang sampai Merauke. Hanya saja aku menolak sebab sahabat baikku ini, belum punya pacar sampai sekarang.”
“Kalau gitu sorry yah, sudah ngerepotin kamu sampai sampai kamu juga jadi nggak punya pacar. Dan sorry juga kalau sahabat baikmu ini tidak laku,” kataku kesal.
“Ngambek deh.. tapi kalau ngambek kamu lucu juga yah, Vincent pasti makin suka deh kalau melihatmu kayak begini.”
“Paula, Fenny.” panggil Vincent.
“Panjang umur deh! Baru dibilang sudah datang tuh.”
“Sudah sembuh?” tanya Vincent.
“Sudah. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku.”
“Nggak apa apa kok. Oh ya, nanti kalian ada waktu luang?”
“Ada. Emangnya kenapa?” tanyaku.
“Nanti pergi nonton film,yuk.”
“Maaf. Aku tidak bisa. Nanti aku mau pergi sama Mamaku.” kata Fenny sambil mengedipkan matanya ke aku.
“Oh..kalau begitu kamu nanti bisa kan?” tanya Vincent lagi.
“Hm… bisa,” kataku.
“Ok deh…see you later.”
***
3 bulan sudah berlalu sejak Vincent mengajakku ke bioskop. Sejak hari itu, aku dan Vincent semakin akrab. Sejak hari itu pula, kesehatanku semakin memburuk. Mungkin hidupku tidak akan lama lagi.
“Paula, ada yang mau kubicarakan,” kata Vincent.
“Apa? Kok kayaknya penting banget? Mukamu kelihatan tegang tuh.”
“Hmm… sebenarnya aku…aku… su…suka kamu.”
DEG!! Oh Tuhan.. kenapa hal ini bisa terjadi. Andai saja aku tidak menderita penyakit ini, aku pasti akan menjawab IYA. Tuhan, apa yang akan kulakukan? Bila dia bersamaku, dia akan menderita.
“Maaf, aku tidak suka denganmu. Sebenarnya aku dekat denganmu karena aku mengincar uangmu. Karena aku tahu kalau kamu anak orang kaya.”
Maaf Vincent, aku terpaksa membohongimu. Sebenarnya aku sudah suka kamu dari dulu. Tapi apa dayaku. Hidupku tidak akan lama lagi. Aku tidak mau membuatmu menderita.
“Paula, aku yakin kamu bukanlah orang yang berteman denganku hanya untuk mencari keuntungan. Kalau kamu memang mau menolakku, tolaklah dengan halus.”
“Maaf, aku emang mau mengincar uangmu. Tapi, sekarang aku sudah nggak berminat lagi denganmu,” kataku sambil berjalan menjauhi Vincent.
Kesedihan terpampang jelas di wajahnya.
“La, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengatakan hal yang begitu kejam kepada Vincent?” tanya Fenny.
“Fen, sebenarnya hidupku tidak akan lama lagi. Aku… aku mengidap penyakit Leukimia. Sejak 3 bulan yang lalu, kondisiku memburuk. Sum-sum tulang belakang mama nggak cocok denganku.”
“La, kenapa kau tidak menceritakan hal ini lebih awal kepadaku?”
“Fen, aku tidak mau melihatmu bersedih. Fen, kurasa hidupku tinggal beberapa bulan lagi. Dokter juga mengatakan hal itu kepadaku.”
Fenny memelukku sambil menangis tersedu-sedu. Fenny mengantarku pulang ke rumah sebab aku merasa pusing. Sesampai di kamarku, aku menulis sepucuk surat. Sebab sekarang aku merasa waktuku untuk hidup di dunia ini, bisa dihitung dengan jari tanganku. Tiba-tiba kepalaku terasa berat, sekelilingku menjadi gelap. Ketika kubuka mata, aku melihat ruangan yang serba putih. Mama menangis di sampingku. Begitu juga dengan Fenny dan Vincent.
“Paula, maafkan Mama. Mama tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Mama
“Mama tidak perlu menangis. Paula sudah pernah bilang agar Mama nggak usah berbuat apapun. Paula hanya mau melihat Mama melepaskan kepergian Paula dengan senyuman, Ma.”
Mama masih menangis, begitu juga dengan Fenny dan Vincent.
“Mama bila Paula sudah tiada, jaga diri Mama baik-baik. Fenny, aku merasa bersyukur punya sahabat sebaik kamu. Vincent, maafkan kata-kataku tadi.”
“La, jangan berkata seolah olah kamu akan pergi jauh,” kata Mama.
“Mama, terima kasih atas kebaikan Mama selama ini. Di meja belajarku, ada sepucuk surat untuk kalian semua. Ma, Fen, Vincent, aku sayang pada kalian semua. Aku akan selalu mencintai kalian.”
Sekelilingku perlahan-lahan kembali menjadi gelap. Mungkin ini akhir dari hidupku. Tuhan, aku tidak menyesal karena hanya bisa hidup selama 19 tahun. Aku malah bersyukur karena selama aku hidup, aku bisa bertemu orang orang yang mengasihi dan menyayangiku. Mama, Vincent, Fenny, aku akan pergi ke tempat Papaku berada.
Ma, waktu membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi ke tempat Papa. Ma, jaga diri Mama baik-baik. jangan bersedih akan kepergian Paula. Sebab, Paula akan lebih berat hati untuk meninggalkan Mama bila Mama terus bersedih. Mama tidak sendirian kok. Sebab aku akan selalu berada di samping Mama. Aku pasti akan selalu meyertai Mama.
Fenny, terima kasih telah menjadi sahabat terbaikku selama ini. Carilah pacar yang baik sehingga bisa menggantikanku untuk menjagamu. Maaf, karena telah merepotkanmu selama ini.
Vincent, maafkan aku akan kata-kataku. Aku tidak bisa pacaran denganmu karena aku sadar akan hidupku yang tidak akan bertahan lama karena penyakitku ini. Vincent, sebenarnya aku menyukaimu dari dulu. Aku senang waktu kamu mengutarakan perasaanmu ke aku. Carilah pacar yang lebih baik dari aku.
Selamat tinggal Mama, Fenny dan Vincent. Aku akan selalu berada di samping kalian, menyertai dan melindungi kalian.
Tuesday, July 6, 2010
I Love You
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Comments :
0 comments to “I Love You”
Post a Comment